Kampung Tua di Jantung Kota Surabaya
Kampoeng Lawas Maspati berada di Jalan Maspati Gang V dan VI, Kelurahan Bubutan, Surabaya. Kawasan ini dihuni oleh sekitar 375 kepala keluarga atau kurang lebih 1.750 jiwa, dan keberadaannya bertautan erat dengan perjalanan panjang sejarah Surabaya — sejak zaman Keraton Mataram hingga masa pendudukan Belanda.
Berbeda dari kampung kota pada umumnya, warga di sini secara sadar merawat rumah-rumah tua peninggalan generasi sebelumnya alih-alih merombaknya. Berkat kesadaran kolektif itu, kampung ini kemudian dihidupkan kembali sebagai kampung wisata heritage yang memadukan atraksi budaya, edukasi sejarah, permainan tradisional, dan pelestarian lingkungan dalam satu pengalaman kunjungan.
Jejak Perjalanan Kampung Maspati
Cikal Bakal Permukiman
Kawasan Maspati telah dihuni sejak masa Kesultanan Mataram, menjadikannya salah satu kampung dengan lapisan sejarah terpanjang di Kota Surabaya.
Omah Tua Didirikan
Rumah yang kini dikenal sebagai "Omah Tua" dibangun pada tahun 1907. Bangunan ini menjadi salah satu saksi bisu perkembangan kampung dari masa ke masa, dan kini difungsikan sebagai kafe heritage bagi pengunjung.
Berdirinya Sekolah Ongko Loro
Rumah Ongko Loro didirikan sebagai sekolah rakyat pada masa kolonial Belanda. Kini bangunan tersebut dirawat dan difungsikan kembali sebagai ruang kegiatan budaya dan edukasi bagi warga maupun pengunjung.
Saksi Perjuangan Kemerdekaan
Omah Tua tercatat pernah menjadi tempat berkumpulnya para pemuda kampung untuk menyusun strategi menjelang Pertempuran Surabaya, momen bersejarah yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Kehidupan Kampung yang Terus Berlanjut
Kampung terus dihuni turun-temurun oleh warga, termasuk generasi yang tinggal di sekitar kediaman tokoh setempat seperti Raden Sumomiharjo, sambil menjaga karakter arsitektur lawas di tengah modernisasi Kota Surabaya.
Kebangkitan sebagai Kampung Wisata
Warga bersama pengelola menghidupkan kembali kampung ini menjadi destinasi wisata heritage. Upaya tersebut membuahkan sejumlah pengakuan: ADWI 2023 (Top 300 Nasional), Desa Wisata Award 2024 & 2025, status Kampung Iklim 2024, hingga Surabaya Tourism Award 2026 untuk kategori Most Sustainable Urban Tourism.
Tradisi yang Masih Hidup Hingga Kini
Selain bangunan bersejarah, kampung ini juga merawat berbagai tradisi dan kesenian warganya sendiri.
Tari Remo
Ditampilkan setiap akhir pekan oleh pemuda kampung sebagai bentuk pelestarian kesenian khas Jawa Timur.
Paduan Suara Lansia
Kelompok warga lanjut usia yang aktif tampil, menjadi bukti nyata semangat gotong royong lintas generasi.
Pijat Asman Kenanga
Tarian pijat tradisional khas kampung yang menjadi salah satu daya tarik budaya unik Maspati.
Kampung Iklim
Warga aktif menjaga lingkungan melalui program daur ulang sampah dan penghijauan gang kampung.
Datang dan Dengarkan Kisahnya Sendiri
Pemandu lokal kami akan mengajak Anda menyusuri gang demi gang sambil menceritakan kisah di balik setiap bangunan.
